Kamis, 07 Oktober 2010

Pemuda Kristen


MANAGING SELF
(MENGATUR DIRI)

Manusia perlu mengatur dirinya sendiri.  Mengatur diri biasa disebut dengan “Managing Self” disingkat MS.  Jika anda seorang pemuda yang memiliki kemampuan untuk “Managing People” (MP) dan “Managing the Job” (MJ), maka anda harus memiliki kemampuan “Managing Self” yang dalam buklet ini ditermkan “Mengatur Diri” (MD).  Tujuan “mengatur diri” adalah agar setiap kita dapat memberikan kontribusi terbaik dalam prestasi kerja atau performance yang optimal.   Inti dari “mengatur diri” adalah filosofi kerja yang dapat digambarkan seperti “telor mata sapi”.  Kuning telor bulat di tengah adalah wilayah “kerja wajib” atau termnya “duty”.  Wilayah yang kita termkan sebagai “duty” dikelilingi oleh putih telor dan warna ini adalah wilayah tanggung jawab, kerja inovasi, inisiatif, kerja yang dilakukan bukan karena dibayar tetapi karena “moral duty, sense of integrity, commitment, dan responsibility sebagai pemuda Kristen yang adalah anak Tuhan.
Masa lampau, filosopi kerja seperti telor dadar yang semuanya berwarna kuning, tanpa warna putih.  Tidak ada ruang untuk kerja (pelayanan) kreatif, semua ditentukan, dibatasi, dan diawasi.  Jika anda dianjurkan hanya berjalan 1 mil (kuning telor), Tuhan Yesus Guru Agung yang mengajar kita melayani (kerja) menganjurkan anda berjalan 2 mil (putih telor).   Pada waktu senja mulai tiba, biasanya kita ingin segera mengakhiri kerja (pelayanan), tetapi Tuhan Yesus berkata:  “…Berikanlah makanan kepada orang banyak ini…”.  Area putih telor adalah area kerja atau pelayanan yang jika tidak dilakukan akan menimbulkan penyesalan yang dalam, bukan karena perhitungan untung atau rugi, tetapi soal anda telah menjadi manusia “robotis”.  Paulus dalam surat Roma mengatakan:  “for the good that I will do, I do not do, but the evil I will not do, that I practice…. Oh wreath man that I am”.  Karena itu  “Mengatur Diri” (MD), dalam hidup dan kerja (pelayanan), responsibility selalu lebih besar dari duty.    Sebagai pemuda Kristen, secara umum anda harus tahu bahwa ini semua dapat terwujud berawal dari kesadaran bahwa hidup dan pelayanan adalah “calling”, dimana ada rancangan Tuhan di dalam hidup dan kerja (pelayanan) kita.  Konklusinya: Melalui “Mengatur Diri” (MD), seseorang dipimpin Tuhan  bertumbuh sesuai mandat Tuhan.
Langkah-langkah berikut ini akan menolong kita untuk “Mengatur Diri” (MD).
Pertama, Pemuda Kristen perlu menyadari kekuatan diri (Strength Your Self).  Secara umum semua orang mengetahui kekurangan dan kelemahannya sendiri, sedikit orang yang menyadari kekuatannya.    Guna mengetahui kekuatan kita ada teori yang ditawarkan oleh Peter F Druker menganjurkan “feedback analysis”  yang juga dikembangkan oleh John Kalvin dengan cara: Perhatikan dan analisis dalam satu sampai dua tahun terakhir, prestasi hidup, pelayanan, kerja, dan rohani terbaik anda; lalu selanjutnya, kembangkan kekuatan tersebut.  Membangun bukan dari kekuatan, tetapi kelemahan tidak akan menghasilkan hidup dan pelayanan yang optimal.  Sebuah ungkapan ini patut anda renungkan:  “Ada manusia yang berprestasi baik sebagai adviser, tetapi gagal sebagai decision maker karena tidak tahan dengan tanggung jawab yang dirasakan terlalu berat”.
Kedua, pemuda Kristen perlu tahu cara ia dapat berprestasi atau “How do I perform?”.   Ada manusia yang harus mempersiapkan segala sesuatu untuk apa yang perlu ia kerjakan esok, tetapi ada juga manusia dengan jenis think on their feet.   Misalnya:  Pendeta A dapat khotbah tanpa teks khotbah, sementara Pendeta B, teks khotbahnya kalau dijilid lima kali tebal Alkitab dan dipakai secara kaku.   Kembali ke konteks “How do I perform?”, kita perlu mengetahui bagaimana kita belajar (how do I learn?).  Ada orang belajar melalui mendengar, atau membaca, tetapi ada yang melalui menulis, membuat catatan-catatan, bahkan learning by doing.  Perlu disadari oleh siapapun agar dapat berprestasi dalam hidup dan pelayanan, yaitu apakah kita tipe single fighter atau bekerja baik dalam team.  Apakah kita tipe adviser atau decision maker?
Ketiga, Pemuda Kristen perlu meletakkan nilai-nilai hidup yang benar (what is may life value?).  Ada pemuda yang menganggap bahwa untuk meraih sukses ia perlu bergantung dari dorongan dan dukungan orang-orang di sekitarnya, tetapi ada yang menilai bahwa ia dapat meraih sukses dengan kemandiriannya sendiri.
Keempat, Pemuda Kristen perlu tahu, ia mau jadi apa! (Where do I belong?).  Masa lalu kita menghadapi pilihan yang terbatas, anak petani akan menjadi petani, anak guru memilih jadi guru dan selanjutnya.  Sekarang di depan kita terhampar pilihan seluas lautan.  Karena itu anda mau jadi apa? Harus melibatkan pilihan atau pemikiran sejak dini.  Dengan perubahan yang signifikan ini, perlu dikembangkan keberagaman pilihan hidup dan pelayanan sebagai anugrah Tuhan.
Kesimpulan:  Aturlah hidup anda sejak dini, agar Tuhan menggenapi karya-karya nyata dalam hidup anda. Amin.

 

GENERAL CHEK-UP KEY PERFORMANCE INDIKATOR



Harapan untuk mencapai keberhasilan (hidup, karir, studi) secara optimal sewajarnya milik semua orang.   Tentu orang yang ingin sukses perlu memiliki “key performance indicator” yang lebih baik.    Karena itu, ada dua hal yang perlu dilakukan yaitu “General Check Up and Key Performance Indicator”.
A.     GENERAL CHECK UP
1.     The Check Up Number One – Ternyata Hidup Membosankan.  Kata orang:  “Hidup di dunia ini bagaikan burung dalam sangkar; bagai narapidana di dalam bilik penjara”.  Pagi datang diganti malam, begitu terus sepanjang waktu.  Rutinitas hidup hidup menjadi otomatis seperti perputaran jarum jam.  Pagi bangun dari tidur – berkarya – datang malam – tidur lagi – lalu bangun lagi … sampai hidup memasuki senja.   Salomo mengatakan:  “Segala sesuatu menje-mukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia, mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar… tidak ada yang baru di bawah matahari” (Pengkhotbah 1:8-9). 

2.     The Check Up Number Two – Terbukti Hidup Rapuh.  Hidup ini bagaikan “angin berlalu, titik air yang jatuh di rimba lautan, uap di pagi hari, kain lara” berlalu begitu cepat dan bersifat sementara.  Salomo berkata:  “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1).

3.     The Check Up Number Three – Teridentifikasi Hidup Berulang.  Hidup berulang-ulang dan seperti mimpi buruk.  Perhatikan matahari tidak pernah berada di tempat yang berbeda.  Terbit selalu diufuk Timur dan terbenam diufuk Barat.  Tidak pernah ia bertamasya, selalu pada orbitnya.  Demikian juga hidup, “Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada” (Pengkhotbah 1:4)

4.     The  Check Up Number Four – Memang, Hidup Tidak Pernah Puas. Hidup sarat dengan hasrat yang tidak bisa dipenuhi dalam kepuasannya.  Hasrat menginginkan lebih dan menguras jiwa sepanjang waktu. Salomo menegaskan:  “Aku mulai putusasa terhadap segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari”. (Pengkhotbah 2:20)

5.     The Check Up Number Five – Aduh, Hidup Tidak Bisa Diubah.    Kita bang-ga sebagai manusia modern dengan penemuan - penemuan yang mutakhir, baik bidang pengetahuan maupun teknologi.   Tetapi apakah itu dapat merubah kenyataan.  Ia hanya memindahkan dari satu cara konvensional menuju cara yang modern.  Sedangkan hidup tidak berubah, yang nampak beda dan aneh hanya gaya hidup.

6.     The Check Up Number Six – Kasihan Ya, Hidup ini Tidak Berarti.  Ada mungkin dari kita yang pernah menyangka bahwa ia sudah  melakukan pekerjaan yang baik dengan hasil yang hebat dan excellent, tapi apakah kita sadar bahwa satu generasi berikut anda akan dilupakan karena terdapat kemudian orang yang mengakui bahwa ia lebih hebat dari siapapun yang pernah ada di muka bumi ini.    “Sebab kalau ada orang  berlelah-lelah dengan hikmat, pengetahuan dan kecakapan, maka ia harus mening-galkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu.   Inipun kesia-siaan dan kemalangan yang besar”. (Pengkhotbah 2:21).

Hasil General Check Up di atas menggambarkan realitas dan fakta yang terjadi di dalam hidup manusia akibat egosentris sebagai akomulasi tuaian dosa yang mengcengkeram manusia dalam ketidakberdayaan hidup.    Hanya Tuhan Yesus yang dapat membongkar seluruh direction of life and root of problem.  Sampai Ia mengatakan:  “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, janganlah kuatir akan tubuhmu akan apa yang hendak kamu pakai, janganlah kuatir akan hari esok karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri.” (Matius 6:25-34).   Lalu apa yang harus anda buat:  redefinisi ulang seluruh konsep atau filosopi hidup.   KUATIR adalah hasil akhir dari General Check Up terhadap hidup kita.   Kembali kepada KRISTUS adalah jawaban satu-satunya untuk memperoleh kehidupan baru dalam Kristus sampai menjadi gambaran yang benar menurut gambar Khalik-Nya (Kolose 3:10). 

B.     KEY PERFORMANCE INDICATOR.
Ada tujuh prinsip hidup yang menjadi “key performance indicator”, yaitu:
1.     Tempatkan Taat kepada Allah sebagai perioritas hidup.   Taat kepada Allah dalam segala situasi.  Merupakan janji iman yang tidak dapat ditawar, karena totalitas hidup kita adalah milik-Nya.
2.     Tempatkan Kristus sebagai pusat hidup.   Dengan Kristus sebagai pusat hidup, kita dapat bertumbuh dalam iman yang sejati dan mampu menerobos dengan keberanian to be prophetic voice in community, bertumbuh dalam karakter dengan menunjukkan cinta kasih dan kedewasaan yang jujur  dan murni; bertumbuh dalam kualitas terhadap segala bidang hidup dan karyanya sebagai refleksi bertanggungjawaban hidup yang sudah menjadi milik Kristus.
3.     Hidup dengan standar moral yang sejati dari Firman Allah.  Prinsipnya adalah berdirilah kokoh untuk tidak mudah dipengaruhi oleh keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup (I Yohanes 2:16,17).   Standar-standar mengenai kehidupan rohani perlu diinternalisasikan kepada hidup pribadi untuk dapat tetap kokoh.
4.     Jadilah “surat Kristus” bagi semua orang.    Hidup dalam kelimpahan dan berkat bagi semua orang.   Sebagai orang Kristen  ada mandat yang semestinya diemban, yaitu membawa setiap orang  agar hati dan  pikirannya ditawan dan taklukkan kepada Tuhan Yesus Kristus (2 Korintus 10:3-5).
5.     Tentukan target hidup yang akan raih.   Tuliskan secara matang goal masa depan yang akan diraih.   Karena itu, perlu melewatkan hidup dengan mengidentifikasi dan penggalian potensi yang optimal.  Bagian ini dimaksudkab sebagai tanggung jawab hidup kita kepada Tuhan yang telah memberikan talenta.
6.     Patok nilai diri dengan otensitas yang dinamis.   Otensitas yang dinamis dilandasi dengan sikap yang benar, yaitu takut akan Tuhan.  Karena itu perlu selalu kita diperbaharui attitude yang makin baik, membentuk kepribadian di dalam expectation, dan keberanian dalam actions yang menghasilkan nilai diri yang tinggi bagi kemuliaan Bapa di Sorga.
7.     Integritas diri yang tepat dan tetap.  “Till I die I will not deny my integrity” (Ayub 27:5b).    Kendati Ayub mengalami per-soalan hidup yang bertubi-tubi, focus hi-dupnya ia tahu, yakni:  “Aku tahu kepada siapa aku percaya” (2 Timotius 1:12), sampai ia memperoleh ketenangan jiwa.
Karena hasil akhir General Check Up yang didiagnosis terhadap hidup disimpulkan hidup ini sarat dengan KUATIR, sebaiknya kita mendorong diri untuk mengisi lembaran hidup dengan basic spirituality yang Alkitabiah.




















PEMUDA:
MANUSIA YANG MENJADI MANUSIA[1]


I.      PENDAHULUAN
A.     Asumsi:  Pendidikan di bidang religius dan sekuler menempatkan tujuan “memanusiakan manusia” sebagai inti jatinya.
B.     Fakta Aktual:  Masyarakat Kalimantan Barat peringkat ke 7 buta huruf se- Indonesia;  42% penduduk Kalbar tidak memiliki ijazah, 12% diantaranya tidak pernah masuk lembaga pendidikan formal (sekolah).  Jumlah penduduknya lebih dari 4 juta jiwa.   Kalimantan Barat juga terkenal sebagai daerah yang disebut kantong kemiskinan.  Kemiskinan yang memiliki pengertian secara multi dimensional: 1). Miskin pola pikir, perilaku budaya, dan kondisi social ekonomi, yang selanjutnya disebut dengan   term   “penduduk   miskin;    2). Potensi/fasilitas social dan ekonomi desa yang miskin, selanjutnya disebut dengan term desa miskin (tertinggal).

II.     PARADIGMA KRISTEN TENTANG MANUSIA SEUTUHNYA
A.     Beriman dan Berbuah.
Deskripsi:  Iman yang benar bilamana  Yesus Kristus adalah TUHAN  diterima dengan hati dan diakui dengan mulut.  Hati yang menerima dan mulut yang mengaku adalah realita tentang peneguhan pemilihan Allah dimasa lampau terhadap umat-Nya.   Buah rohani yang benar:  Bila seseorang menerima transformasi hidup di dalam Kristus.   Allah di dalam Kristus menyediakan keselamatan.  Allah memberi iman sehingga manusia memiliki respon untuk menyambut kasih-Nya.  Allah pula yang melengkapi setiap orang percaya untuk berbuah (melakukan pekerjaan baik) (Efesus 2:8-14.  Jika Allah memberi iman, jaminanya adalah Allah sendiri, sehingga ada hidup yang berbuah.
B.     Berintegritas Diri
Seorang pemuda Kristen perlu memiliki integritas diri.  Integritas yang dimaksud memiliki beberapa indicator penting:
P  Kehidupan rohani yang dewasa.  Kerohanian yang tercermin seperti kehidupan Yosua dan Daniel (unik dan mampu memilih yang benar) – Yosua 24:15; Daniel 1:8.
P  Kehidupan individual yang holistic (sehat mental, otonom, perasaan yang halus, tujuan yang benar, pikiran yang jernih, cita-cita yang luhur, kehendak yang wajar, talenta yang inovatif dan positif ).  Kehidupan individual semacam itu, hanya ada dalam hidup bersama Kristus (Kolose 2:6; 3:1-4).
P  Kehidupan social yang inter dan antaraktif.  Mampu mengembang-kan penerimaan terhadap diri (interaksi ke dalam) dan mampu menerima orang lain (interaksi ke luar).
P  Kehidupan historitas yang progresif/dinamis.  Terjadi transfor-masi iman, hidup, dan keterampilan rohani yang dinamis (Efesus 5:1-21; Kolose 3:5-17; Efesus 6:10-20).

C.     Kemampuan Konstruktif.
P  Kemampuan Konstruktif berlawanan dengan kecenderungan destruktif.  Konstruktif bermakna kemampuan menata hidup dan membangunnya secara bertanggungjawab. Meli-batkan kepekaan rohani dan intelektualitas yang sehat.  Sedangkan destruktif bermakna tindakan-tindakan penghancuran diri, layaknya para pendemo yang merusak apa saja yang ditemuinya di jalan.
P  Kemampuan Konstruktif melibatkan hidup yang selalu terinternalisasi dengan prinsip-prinsip moral Alkitab yang kekal.
P  Kemampuan Konstruktif mematang-kan metode konvensional jika itu prinsip Alkitab.  Merekonstruksi metode konvensional secara bertanggungjawab dan ilmiah, tetap mengokohkannya pada ajaran Alkitab.

D.     Mawas Diri
Pikirkanlah pertanyaan di bawah ini sebagai sesuatu yang menggelitik rasa mawas diri:
P  Apa anda pemuda yang mengaku beriman, tetapi malas bekerja – maka anda perlu mawas diri sebab anda tergolong kepada kelompok manusia yang dilarang makan.
P  Apakah anda adalah pemuda yang aktif di gereja, tetapi hidupmu duniawi – awaslah dirimu, sebab anda sama dengan munafik dan hipokrif.
P  Apakah anda seorang yang menyukai hal-hal yang praktis, tetapi kurang matang dalam pikiran – hati-hatilah! Mungkin anda tergolong manusia “Mie Instan”.
P  Apakah anda seorang pragmatis, tetapi suka bertindak konyol – maka anda mawas dirilah, mungkin kekonyolan anda akan menelanjangi siapakah anda sesungguhnya.
P  Anda seorang yang gampang puas dan haus akan segala hal,  tetapi bukan sesuatu yang rohani – maka siapkanlah tali pengikat, karena anda pemuda yang liar.
Jika anda tidak memiliki kemampuan mawas diri, maka mungkin sejenis spesies tanpa bentuk yang jelas alias manusia yang belum manusia.

III.    KESIMPULAN
Jadi manusia yang sungguh manusia, anda harus hidup DALAM KEBENARAN YANG ALLAH ANUGRAHKAN BERDASARKAN KEPERCAYAAN (FILIPI 3:9).
Tantangan:
A.     Negative Conditionings (social) – Jadilah “agen perubahan” (Agent of Changes).
B.     Negative Learnings (modeling) – Jadilah “Pilar Penyangga” (Know, Do, Be,)
C.     Negative Thinkings (culture) – Milikilah “Pikiran Kristus” (The Christ’s Thinking)
D.     Negative Perceptionings (feeling) – Miliki “Objektivitas Murni” (Feeling Submission).
Evaluasi Diri (The Jauhari Windows).

           I know,                         I know, but  
      other   people                  other people
         know too                        don’t know
                  (general                           (my sins)
              informations)













 



    I don’t know, but             I don’t know, and
 other people know               other people
                                               don’t know too
     (my weakness)             (dead, miracles)







[1]Diskusi PASKAH GKII EBEN HEIZER Palangka Raya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar