“Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.” (Ayub :38:3). Jika anda membuat tanggungjawab, buatlah tanggungjawab itu berhenti pada diri anda(Anda bertanggungjawab) , jangan pada orang lain (anda lempar tanggungjawab).
Irene Ministry
A. HAKIKAT TANGGUNG JAWAB
“Tanggung jawab dalam session ini coba dibatasi pada subjek “seorang ayah” atau “suami”. Maka tanggung jawab yang dimaksud adalah sederetan “tugas, beban, fungsi, atau pekerjaan” yang Allah gariskan kepada suami/ayah Kristen di dalam keluarganya.
Memikul tugas sebagai Pria/Ayah/Suami yang Kristen tidak mudah di tengah kondisi yang sukar pada zaman akhir ini. Karena itu, menunaikan tugas sebagai seorang ayah:
- Pekerjaan Paling Menakutkan di dunia. Tidak ada lembaga di dunia ini yang dapat menjadi lembaga pemberi lisensi atau sertifikasi bagi pria untuk dikata layak menjadi seorang ayah atau suami. Semua kita kebanyakan harus belajar langsung dalam menjalankan tugas, melalui coba-coba – sebagaian melalui kesalahan. Terlebih lagi, tantang bagi tugas kita sebagai ayah lebih berat dari sebelumnya: Pria – dan anak-anak kita –hidup dalam sebuah dunia yang seringkali mengancam pernikahan, keluarga dan anak-anak. Kita berada di tengah suatu kebudayaan masyarakat umum yang menolak kebenaran Alkitab, yang mengejek moralitas alkitabiah, mengagungkan seks dan kekerasan, dan tertawa kepada kemabukan dan kekerasan. Suatu masyarakat yang kehilangan kemampuan untuk memutuskan apa yang benar dan apa yang seharusnya, suatu masyarakat dimana kebenaran menjadi soal selera, dan moralitas diganti dengan pilihan pribadi. Pria – dan anak-anak kita menghadapi tugas (tanggungjawab) membesarkan anak ditengah-tengah kultur dalam krisis. Sebuah penelitian melaporkan betapa kondisi kita sangat menakutkan: - Setiap tahun 1.000 remaja wanita menjadi ibu tanpa nikah. - 1.106 remaja wanita melakukan aborsi/tahun - 4.219 remaja mengidap penyakit yang tertular dan menular secara seksual. - 500 remaja memakai narkoba - 1.000 remaja mulai mengkonsumsi alcohol. - 3.610 remaja dilecehkan; 80 orang diperkosa. - 2.200 orang remaja berhenti dari sekolah menengah - 7 anak (usia 7-9 tahun) dibunuh- 7 anak muda (17 tahun ke atas)ditangkap karena membunuh - 6 remaja bunuh diri. Tidak mengherankan bahwa banyak pria menghadapi tugas sebagai ayah dengan rasa takut dan gentar. Di samping tugas ini menakutkan, tetapi juga paling dibutuhkan.
- Pekerjaan Terpenting di dunia. Tugas/tanggungjawab menjadi seorang ayah menjadi sangat penting, karena menentukan kualitas suatu bangsa di masa yang akan datang. Sekali lagi kita perlu memperhatikan sebuah rekomendasi penelitian yang menuliskan: Absennya seorang ayah dalam melaksanakan tanggungjawabnya telah menyebabkan kontribusi pada kenakalan lebih dari kemiskinan (Dr. Loren Moshen). Tingkat kejahatan terbesar yang dilakukan oleh orang setelah dewasa, ternyata berhubungan dengan kelompok yang hanya dibesarkan oleh wanita/ibu (singleparent). Kehadiran dan percakapan seorang ayah, khususnya saat makan malam, menstimulasi seorang anak untuk berprestasi (Dr. Martin Deutch) Tidak terjadinya hubungan kedekatan antara ayah dengan anak menjadi penyebab hipertensi, penyakit jantung koroner, tumor ganas, penyakit mental, dan bunuh diri (John Hopkins University). Gadis-gadis remaja kulit putih yang hidup dalam keluarga tanpa ayah, 60 % melakukan hubungan seks bebas di luar nikah (John Hopkins University).Seorang ayah yang absen secara emosional atau fisik menjadi penyumbang terbesar rendahnya prestasi belajar anak, rasa harga diri yang rendah, dan rentannya pengarus kelompok yang mengakibatkan kenakalan remaja (Dr. Armand Nicholi’s). Jika masyarakat (anak-anak) kita tetap dibiarkan tanpa kehadiran ayahnya secara emosional dan fisik maka kondisi remaja mendatang akan menuju sebuah titik kehancuran. Karena itu, tugas ayah (the Father Connection with his child) menjadi tugas yang terpenting dalam dunia ini. Anda dan saya perlu hadir di saat anak-anak melewati masa kritis dalam pertumbuhan akan kebajikan, mental, dan perkenanan Allah dan manusia.
- Pekerjaan Paling Menguntungkan di dunia. Melaksanakan tugas sebagai seorang pria (ayah dan suami) kita sedang menginvestasi ‘saham terbesar dan termahal’ dalam dunia ini, karena mempersiapkan ‘generasi baru’ untuk mengarungi hidup dan masa depan mereka. Karena tugas kita menguntungkan, maka saran-saran saya:
- Lakukan tugas sebagai ayah dari sudut pandang yang positif dan optimis. Bayangkan pengaruh positif yang akan dihasilkan oleh anda untuk memperkaya hidup anak anda, anda diperkenan oleh Allah menjadi sarana memperluas anda pribadi secara mental, emosional dan spiritual. Optimislah bahwa anda sedang menginvestasikan hidup anda ke dalam seseorang, percayalah bahwa nilai-nilai moral dan karakter yang terinvestasi akan membuah hasil selama bertahun-tahun – mungkin generasi demi generasi.
- Pandanglah pertumbuhan sebagai serangkaian langkah kecil yang diambil dan berlangsung sepanjang hidup. Jika anda merasa kelelahan melakukan hal-hal yang besar bagi anak, mulailah hari ini dengan ‘langkah kecil’ dengan sepenuh hati. Ajar seorang mengambil keputusan bagi dirinya, jangan kita yang membuat keputusan baginya.
- Bertekadlah mendedikasikan diri anda kepada hak istimewa dan tanggungjawab menjalankan tugas sebagai ayah. Pemazmur berkata: “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah” (Mazmur 127:3). Jika kita meyakini bahwa anak kita adalah upah dari TUHAN, maka wajib pula kita melaksanakan tugas untuk mempersiapkan kehidupan mereka menuju kedewasaan yang layak, maka misi ini mengandung arti kekal.
B. TANGGUNG JAWAB PRIA TERHADAP KELUARGA
1. Mewujudkan KASIH (Perintah Utama Allah) secara Konkrit.
Kasih yang konkrit dari seorang ayah adalah kebutuhan paling dasar seorang anak. Sebuah pelukan hangat seorang ayah ketika anaknya berhasil atau gagal cukup membuktikan konkritnya sebuah pernyataan kasih.
Kasih yang konkrit dari seorang ayah perlu menjadi yang Pertama, Terutama, dan Selamanya. “Allah adalah KASIH” Ia terlebih dahulu, Pertama mengasihi kita, Ia tidak menunggu kita “membersihkan kesalahan”, Ia tidak menunggu kita memenuhi harapan-Nya, Dia juga tidak menunggu sampai kita ‘membuatnya bangga’. Dia hanya mengasihi (Roma 5:8; Efesus 5:8; 1 Yohanes 4:19). Dia Terutama mengasihi kita (Roma 8:32). Dia menunjukkan kasih-Nya di atas kayu salib, di tulis-Nya kasih-Nya kepada kita di dalam darah. Ia juga mengasihi kita selamanya (Yermia 31:3).
Kasih yang konkrit, tercipta dalam suasana kasih dan penerimaan tanpa syarat dan mendemontrasikan kasih saying.
Kasih yang konkrit bersuka dalam keunikan setiap anak, meneguhkan nilai pribadi anak, memupuk rasa memiliki, menghargai nilai lebih dari penampilan, dan memupuk rasa percaya diri serta kemampuan anak.
2. Memupuk KEMURNIAN dan KEJUJURAN Hidup.
Allah menuntut emas murni dalam pembangunan Bait Suci, kemenyan yang murni dalam ibadah, hewan yang tak bercacat untuk dikorbankan, Dia memerintahkan hati yang suci (Matius 5:8), ibadah yang murni (Yakobus 1:27), dan hubungan yang murni (1 Tim. 5:2); Allah tidak menginginkan saksi dusta, melainkan Ia ingin kejujuran ( Imamat 19:11-13).
Ayah Kristen perlu memberikan teladan standar kemurnian dan kejujuran Ilahi (standar kemurnian tentang seks, perkataan, perbuatan, dan pikiran), mengajarkan standar kemurnian dan kejujuran Ilahi (menetapkan garis “ya” atau “tidak” ; “gelap” atau “terang”).
Ayah Kristen bertanggungjawab membagi manfaat hidup murni dan jujur. Mulai dengan memberikan apresiasi yang wajar dan bertanggung jawab kepada anak yang hidup dengan kemurnian hati dan kejujuran.
3. Menepati JANJI-JANJI dengan setia.
Allah dapat dipercaya untuk menepati janji-janji-Nya (Ratapan 3:22-23 & 2 Korintus 1:20).
Seorang ayah Kristen perlu: memegang janji dengan serius; menepati janji-janji; menepati janji pada Allah (Mazmur 116:12-14); menepati janji pada orang lain; bertanggungjawab jika terjadi penundaan janji.
4. Menjadi PENGHIBUR dan PENDUKUNG handal.
Allah figur Penghibur dan Pendukung sejati (Mazmur 34:18-19). Bapa yang menghibur dalam segala penderitaan (2 Kor. 1:3-4). Mendukung dan menghibur tatkala kita jatuh (Yesaya 40:11). Ia adalah Gembala Agung yang penuh belas kasihan dan suportif.
Ayah yang penghibur dan pendukung adalah ia yang mampu menerima keterbatasan anaknya, memberi waktu yang cukup bagi mereka, mengatur kebutuhan mereka, mempelajari dan mempraktekkan bahasa penghiburan dan dukungan, menjaga mulut, memasuki dan memahami dunia anak-anak.
5. Memberi RASA AMAN untuk berlindung.
Ketika Daud ada pada titik terendah dalam hidupnya, dikejar-kejar dan dianiaya, ia tahu: “Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku berlindung, sampai berlalu penghancuran itu” (Mazmur 57:2 – see on Mazmur 18:2-3; 9:10; 46:8; 144:2; 36:8b).
Mewujudnyata karakteristik perlindungan TUHAN terhadap anak dapat dilakukan oleh seorang ayah dengan cara: mempersiapkan anak memasuki krisis dalam hidup; bersikap waspada dan memperhatikan; belajar mendengar; mengatakan kebenaran dalam kasih; jalan berdampingan dengan anak-anak; menentukan batas-batas yang sehat; dan membangun system pendukung perlindungan .
6. Menjadi SAHABAT sejati
Yesus Sahabat Sejati!. Sepenggal syair lagu ini cukup memberitahu kita tentang Sahabat Sejati yang mengajari tanggungjawab untuk menjadi sahabat bagi anak-anak (2 Taw. 20:7; Yesaya 41:8; Yakobus 2:23; Keluaran: 33:11a; 1 Samuel 13:14).
Ayah yang menjadi Sahabat Sejati adalah ayah yang menunaikan tanggungjawab menyediakan diri, terbuka, mengembangkan minat bersama, melakukan usaha ekstra, berkenalan dengan teman anak-anaknya, dan mengembangkan tradisi yang baik
7. Menjalankan DISIPLIN yang benar.
Allah itu baik. Dia adalah Bapa yang mengasihi, sempurna, tujuan dan tindakannya tidak pernah jahat, namun IA mendisiplin anak-anak-Nya, karena kebaikan-Nya (Ulangan 8:5; Amsal 3:12). Disiplin ilahi menghasilkan respek, kedamaian, dan buah kebenaran.
Ayah yang baik, menjalankan tanggungjawab memberi disiplin yang baik pula dengan: mendisiplin dalam konteks suatu hubungan, konsekuensi mengkomunikasikan peraturan secara jelas, memberi hukuman untuk semua hal yang buruk sekecil apapun, merencanakan bentuk disiplin, memakai konsekuensi yang wajar dan logis, konsisten, dan bertindak dalam kasih bukan kemarahan.
Empat Gaya Disiplin:
- Otokratis - Engkau anakku, lakukan dengan caraku, jika tidak …
#Pengawasan kuat, tetapi dukungan sedikit#
Kasih
Batasan-batasan
- Permisif – Engkau dapat melakukan apapun sesukamu…
Batasan-Batasan
Kasih
- Masa bodoh – Aku tidak peduli apa yang kamu lakukan …
Kasih Batasan-Batasan
- Relasional – Aku mendengar, peduli, memahami, … kali ini kita lakukan dengan cara ini, karena …
Kasih Batasan-Batasan
8. Mempresentasikan PENGAMPUNAN yang tulus.
Allah, Bapa yang mengampuni anda dan saya (Mazmur 103:3, 12-13; Yesaya 43:25; Lukas 15:11-32).
Beberapa cara spesifik dimana seorang pria dapat mempresentasikan pengampunan Bapa bagi anak-anaknya: Pahami dengan benar hakikat pengampunan, menahan desakan untuk bertindak melampui batas, mengingat masa lalu anda, mempraktekkan pengampunan, melakukan ‘cek and ricek’, dan terus meminta ampun bagi anda.
9. Membangun RESPEK yang Kontinue.
“Hormatilah ayahmu dan ibumu” (Kel. 20:12). Sebuah perintah untuk respek. Alkitab memberi perintah ini karena menghormati orang lain adalah benar, karena ada sesuatu yang patut dihormati.
Beberapa bukti yang membuat anda menjadi ayah yang pantas mendapat respek dari anak-anak, maka anda harus menunjukkan respek itu secara konkrit, merinci respek, memupuk respek pada diri sendiri, menuntut respek bagi ibu anak-anak (istri anda), menekankan respek di antara saudara kandung, dan menggunakan waktu untuk mengajar bagaimana melakukan tanggung jawab respek kepada Tuhan dan manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar