Kamis, 07 Oktober 2010

Istri yang Cakap


TANGGUNG JAWAB ISTERI DALAM
KITAB AMSAL 31:10-31
Amsal 31:10-31
10) Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata; 11) Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan; 12) Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya; 13) Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya.; 14) Ia serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya.; 15) Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan.; 16) Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya; 17) Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya; 18) Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam; 19) Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal; 20) Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin.; 21) Ia tidak takut kepada salju untuk seisi rumahnya, karena seluruh isi rumahnya berpakaian rangkap; 22) Ia membuat bagi dirinya permadani, lenan halus dan kain ungu pakaiannya; 23) Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri; 24) Ia membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang; :25) Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.26) Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.; 27) Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.; 28) Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia:; 29) Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.; 30) Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji; 31) Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang!
A.    Bertanggung Jawab Kepada Suami (10-14).
Setiap pasangan Kristen yang menikah tentu akan diberkati dengan ayat-ayat Firman Tuhan berikut ini, baik pada waktu konseling pra nikah, maupun pada saat pemberkatan nikah, juga selama perjalanan Kekristenan yang dilalui.”Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu kepala dari tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki, dan kepala dari Kristus ialah Allah”                (I Korintus 11:3).  Sesuai dengan ayat Firman Tuhan ini, maka isteri sebagai penolong hendaklah mengerti dan mematuhi bahwa suami adalah kepala keluarga dan peraturan Allah ini tidak boleh dilanggar atau dibalik, sekalipun mungkin isteri memiliki penghasilan lebih besar dari suami, atau punya pangkat (kedudukan) lebih tinggi baik sebagai pegawai, atau pun lebih tinggi status sosialnya.
Selanjutnya Firman Allah juga menuliskan:
“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan. karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Karena itu sebagai mana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala hal” (Efesus 5:22-24). 
Setiap isteri yang bisa mempertanggung jawabkan tugasnya sebagai isteri yang baik dan benar adalah isteri yang tunduk kepada suaminya, sekalipun tunduk yang dimaksud tidak membuat kedudukan sang isteri lebih rendah dari suaminya, melainkan sebagai orang kepercayaan suaminya, yang bisa mengelola atau mengatur dengan baik dan benar sebagai sesuatu yang dipercayakan oleh suaminya. Kitab Amsal menuliskan “Isteri yang cakap…siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga daripada permata. Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya”. (Amsal 31:10-12). Istri yang tidak berbuat jahat kepada suami adalah isteri yang bisa mempertanggung jawabkan tugas dengan baik dan benar dalam banyak hal, antara lain masalah keuangan.  Masalah uang adalah salah satu penyebab konflik dalam beberapa keluarga, konflik bisa berkepanjangan, bahkan sampai ada yang bercerai dan menjadi korban perceraian adalah anak-anak. (jika pasangan itu memiliki anak).  Ada beberapa ayat Firman Tuhan yang berbicara tentang uang, diantaranya adalah:
“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. aku tahu apa itu  kekurangan dan apa itu kekurangan dan apa itu kelimpahan, dalam segala hal, dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan”. (Filipi 4:11-12).
Setiap Istri hendaklah dapat mencukupkan diri dengan apa yang ada. Jangan sampai lebih besar pasak dari pada tiang. sangat diperlukan hikmat dan kebijaksanaan dari Tuhan, untuk mengatur dan mengelola keuangan dengan baik dan benar.
“Sebuah kasus yang menyedihkan yang disiarkan melalui media televisi Metro TV bulan maret 2008, “oleh karena si isteri tidak memiliki cukup uang untuk membiayai seluruh kebutuhan ketiga anaknya, dan kekhawatiran akan kelangsungan hidup keluarganya tega membunuh ketiga anaknya dengan racun yang dicampurkan dengan susu, serta meminumnya di saat akan tidur malam, kemudian si isteri ini pun bunuh diri.”[1]
Kemungkinan pasangan suami-isteri ini tidak pernah bersama-sama memecahkan persoalan keuangan yang menjadi beban berat bagi isteri sehingga isteri tertekan dan tidak mau konseling dengan hamba-hamba Tuhan untuk mencari solusi yang terbaik. Contoh kasus pembunuhan di atas merupakan contoh isteri yang kurang bertanggung jawab kepada Tuhan, suami, gereja, dan masyarakat. Itu sebabnya gereja sangat perlu menyediakan para konselor, baik untuk remaja, pemuda-pemudi, para pria dan wanita dewasa, supaya jemaat yang memiliki pergumulan mendapatan tempat untuk berbagi, berdoa bersama, belajar Firman Tuhan agar memperoleh jalan keluar melalui para hamba Tuhan tersebut.  Tindakan preventif (pencegahan/konflik) bagi keluarga jemaat, khususnya mengenai keuangan, kiranya gereja, memberi penyuluhan-penyuluhan dan pelatihan-palatihan keterampilan atau membuka lapangan kerja bagi jemaat yang tidak bekerja di kantor atau di perusahaan, agar dapat menghasilkan uang untuk mengikutsertakan keluarga, dan para isteri dapat memakai waktu yang ada untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang bersemangat bagi keluarganya, seperti yang di tuliskan di  Amsal 31:10-31.
Amsal 31:10-31, memberikan gambaran yang paling lengkap dan indah, mengenai seorang isteri yang baik, seorang isteri cakap, bercita-cita tinggi, rajin bekerja, baik hati, bijaksana, dapat dipercaya, periang, menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan melakukan banyak hal lain-lain. Seorang isteri menciptakan hidup yang baik bagi suaminya dan bagi anak-anaknya, bahkan dari penghasilannya seorang isteri memberi bagi orang miskin dan bagi orang-orang yang tertindas, di luar lingkungan keluarganya sungguh wanita yang luar biasa dan mengagumkan.  Isteri yang digambarkan dalam kitab Amsal ini sangat sempurna dan di zaman ini penulis belum pernah menemukan seorang isteri yang sempurna seperti itu. sekalipun banyak wanita yang bekerja keras menghidupi keluarga dengan bekerja siang malam. Tetapi suaminya tidak memuji, dan anak-anak tidak menyebutnya berbahagia, karena ada suami yang tidak mengingini isteri mencari nafkah, supaya fokus mengurus anak-anak, ada juga isteri yang sudah melakukan maximal yang terbaik menurutnya terhadap anak-anak, tetapi anak-anak tidak bisa diatur bahkan ada yang memberontak terhadap orang tuanya, dan lain sebagainya.
Penulis mengangkat salah satu contoh isteri yang berbuat jahat kepada suaminya, yang dituliskan di Alkitab, adalah isteri Ayub,
“Maka berkatalah istrinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu, dan Matilah!” tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? “Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya”.        (Ayub 2:9-10).
Perilaku isteri Ayub sangat bertentangan dengan perilaku isteri yang ditulis di kitab Amsal 31:10-31. Isteri Ayub ternyata bukanlah penolong bagi suaminya tetapi justru merongrong iman suaminya supaya mengutuki Allah dan mengutuki Ayub supaya mati. Hal ini pastilah menyedihkan hati Tuhan, karena istri Ayub melanggar Firman Tuhan dan peringatan kepada isteri-isteri. Janganlah ada yang berprilaku seperti isteri Ayub, tetapi takutlah akan Tuhan dan jadilah seperti isteri yang tertulis di kitab Amsal 31:10-31. “Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan Tuhan akan dipuji-puji”. (Ayub 31:30).  Bukan berarti isteri tidak memelihara kecantikan, kerapian dan penampilan, semua itu penting. Tetapi diseimbangkan dengan kecantikan roh dan jiwa (tubuh, roh dan jiwa terpelihara sempurna). Tanggung jawab isteri kepada suami adalah memelihara dan mengurus anak-anak dengan baik dan benar. Sebaiknya pengurusan anak-anak tidak diserahkan kepada orang lain atau pembantu, kecuali isteri bekerja di luar rumah sebagai pegawai negeri atau pegawai swasta, atau pekerjaan lainnya yang dikerjakan di luar rumah, sehingga pemeliharaan anak-anak dipercayakan kepada orang lain.  Pada orang tua perlu banyak belajar dari Firman Tuhan dan dari buku-buku yang diperoleh dari para ahli mengenai anak-anak, mengenai pertumbuhan, baik  tubuh, roh dan jiwa.
H.L. Senduk menjelaskan tentang: Tubuh, roh dan jiwa, serta membuat skema sebagai berikut:
“Roh: terdiri dari nurani dan pikiran yang mencakup akal: ingatan, imajinasi. Jiwa: terdiri dari naluri, pancaindera yang mencakup mata (melihat), hidung (mencium), lidah (mengecap), telinga (mendengar), syaraf (merasa) Tubuh: jika di dalam Kristus, menjadi bait Roh Kudus dan jika di luar Kristus, menjadi sarang dosa”.
                                                 
Jika semua orang tua (Suami-isteri) menyadari betapa hebatnya tubuh, roh dan jiwa setiap manusia  (anak-anak), maka tidak akan membiarkan anak-anak bertumbuh apa adanya saja, tanpa perhatian khusus dan pemeliharaan yang serius, terutama dalam masa pertumbuhan dan perkembangan anak-anak secara tubuh, roh dan jiwa sampai kepada remaja dan dewasa. Selanjutnya H.L. Senduk menuliskan sebagai berikut: “Apa yang dilakukan oleh tubuh, digerakan oleh jiwa. Apa yang dilakukan oleh jiwa, digerakan oleh roh. Roh manusia dikontrol oleh nurani (conscience) di mana Tuhan telah menanamkan hukum moral di dalamnya”.[3]. Kalau manusia mentaati rohnya yang patuh kepada nuraninya, pastilah berbuat baik kepada tubuhnya sehingga menghasilkan buah-buah roh seperti tertulis: “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri”.(Galatia 5:22-23a).  Sebaliknya, jika tidak peduli dengan rohnya, maka akan berbuat jahat seperti di dalam Galatia 5:19-21a, “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya”. Jika dosa sudah menguasai jiwa dan roh manusia, maka tubuh akan menjadi cemar, lemah, dan akan melakukan segala kejahatan. Akibat semua dosa adalah kegagalan, kekecewaan, kegelisahan, ketakutan, penyakit, dan penderitaan yang membawa kepada kebinasaan “karena upah dosa adalah maut” (Roma 6:23).
Sebuah keluarga yang dikaruniai anak maka pemeliharaan atas pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut baik tubuh, jiwa, dan roh menjadi tanggung jawab bersama dari suami-isteri sebagai orang tua. Namun pada kenyataannya di beberapa keluarga, tugas ini hanya diemban oleh isteri karena suami sangat sibuk bekerja atapun meskipun suami memiliki waktu untuk membantu mengurus anak, namun tetapi tidak mau, karena menurut sebagian orang mengurus anak itu adalah tugas seorang ibu, padahal begitu berat untuk membesarkan anak-anak dengan keseimbangan yang sempurna antara tubuh, jiwa, dan roh, itu sebabnya bagi keluarga yang memiliki banyak anak, di mana suami hanya memberi uang saja, namun tidak ikut memperhatikan kebutuhan anak-anak. Tidak heran isteri akan kelelahan dan mungkin depresi sehingga disaat suami menginginkan pelayanan yang berlebihan akan memicu terjadinya pertengkaran. Hal ini dapat dihindari dengan mematuhi peraturan pemerintah yang membatasi angka kelahiran melalui program Keluarga Berencana (KB), sehingga keluarga idealnya memiliki 2 atau 3 anak saja.  Firman Tuhan dalam Hosea 4:6, dapat terjadi bila orang tua tidak membimbing anak-anaknya di jalan Tuhan, yakini: “Umat-Ku karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu, maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu”.
Renungan Manna Sorgawi edisi Maret 2008 menjelaskan alasan Allah mengaruniakan anak-anak dalam sebuah keluarga, antara lain:
1.         Karena Allah menginginkan manusia bertambah banyak, memenuhi, mengusahakan, serta memelihara bumi dan ciptaannya.
2.         Karena Allah ingin sukacita yang penuh dapat dirasakan oleh orang tua yang berhasil mendidik anak-anaknya dengan kebenaran Firman Tuhan.
3.         Allah ingin orang tua turut mengembangkan talenta atau potensi anak-anaknya yang beragam satu sama lain agar kehidupan anak-anak tersebut berguna menurut kehendak Allah, bukan kehendak dunia”.[4]

Allah telah menciptakan manusia dengan kebutuhan-kebutuhan tertentu yang memerlukan suatu keluarga. Keluarga menyediakan maupun, perlindungan, pemeliharaan, menjadi anggota kelompok, suatu lingkungan untuk belajar dan sebuah landasan yang aman. Dari landasan inilah anak yang telah dewasa memiliki sebuah keluarga.
Tanggung jawab seorang isteri begitu komplek seperti, mengatur anak-anak, keuangan, mengatur keperluan rumah tangga, mengurus suami dan masih banyak lagi. Maka sangat dibutuhkan kerja sama yang baik dan pengertian serta kasih dari suami, supaya tuntutan tanggung jawab ini bisa dilakukan dengan baik dan benar sesuai dengan kehendak Tuhan.
B.     Mengatur Seisi Rumah Tangganya (15, 17)
Dalam Keluarga dituntut peranan isteri yang cakap mengatur seisi rumahnya. “Pagi-pagi buta ia bangun menyiapkan makanan bagi keluarganya dan untuk membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya. Ia selalu rajin bekerja dan memperhatikan urusan rumah tangganya”.(Amsal 31:15,27).
Henry Ramaya menuliskan dalam bukunya:
“Isteri mengatur rumah tangga dan semua fungsinya, ia membuat rumah tangganya menjadi sebuah  tempat kemana suami dan anak-anaknya rindu kembali. Isteri membimbing dan menjaga suasana serta keteraturan rumah tangga sebagai tempat yang tenang, bersih, rapi dan menyenangkan. setiap hari keluarga berkumpul untuk beristirahat, rekreasi, restorasi, penyembuhan, dan pengarahan kembali.”[5]
Mengatur seisi rumahnya, itu juga berarti menjaga keutuhan rumah tangganya. Istri yang bertanggung jawab adalah isteri yang menjadikan keluarganya kuat dan tangguh menghadapi berbagai tantangan dan persoalan. Sebagai salah satu contoh seorang isteri yang menjaga keutuhan rumah tangganya adalah isteri Nuh. Alkitab tidak menjelaskan siapa isteri Nuh, tapi  sejak Nuh membangun bahtera sampai selesai kemudian masuk kedalam bahtera, isteri Nuh tidak mengejek atau memberontak kepada suaminya, tetapi ikut mengarahkan ketiga pasangan anak dan menantunya, menuruti perintah Nuh memasuki bahtera. Menurut pengamatan dan pengertian penulis, bahwa isteri Nuh pastilah isteri yang cakap mengatur seisi rumahnya, yang menjaga keutuhan rumah tangganya, dan hasilnya adalah: keluarga Nuh seutuhnya masuk dalam bahtera dan selamat dari bahaya amukan air bah. (Kejadian 6:1-7).
Mengatur seisi rumah tangga, juga berarti merapikan, membersihkan, menata rumahnya supaya sedap dipandang mata. juga menempatkan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing, misalnya: sepatu di tempatkan di tempat yang sudah ditentukan atau kalau ada di rak sepatu, handuk di tempatkan di tempat handuk dan lain-lain sebagainya. Jadi ada keteraturan tugas yang lain: mengatur menu makan keluarga, mengatur jadwal kegiatan anak-anak, mengatur tugas pembantu rumah tangga (jika ada), dan lain-lain.
Begitu berat tugas isteri dalam mengurus urusan rumah tangganya, terlebih lagi jika isteri bekerja di kantor atau di perusahaan, dibutuhkan hati yang penuh dengan kebijaksanaan untuk menyeimbangkan antara pekerjaan di kantor dan di rumah, supaya semua dapat berjalan dengan baik.Henry Ramaya berkata:
“Dibutuhkan KASIH seorang ibu (istri), untuk menjadikan sebuah rumah tangga sebuah tempat yang selalu dikenang, tidak peduli di mana pun kita mengembara, Dibutuhkan KESABARAN seorang ibu, untuk membesarkan anak-anaknya dengan benar dan keberaniannya membuat hari yang gelap menjadi terang, Dibutuhkan PERHATIAN seorang ibu, untuk menyembuhkan luka-luka hati yang dalam dan kecakapan serta ketahanannya  memperbaiki rumah tangganya, Dibutuhkan KEBAIKAN seorang ibu, untuk mengampuni ketika kita berbuat salah, untuk bersimpati dalam kesalahan untuk menundukan kepalanya dalam doa”.[6]
C.    Mengajar Dan Mendidik Anak-Anak (26, 28).
Masalah mendidik atau mengajar anak-anak bukanlah hal yang mudah. kenakalan remaja, merokok, minum-minuman keras, pergaulan sex bebas, keterikatan dengan narkoba dan lain-lain yang telah mengikat anak-anak remaja, pemuda-pemudi Kristen adalah salah satu akibat dari kesalahan mendidik dari awal kehidupan anak-anak. Firman Tuhan menuliskan sebagai berikut,
“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya. Apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring, dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatnya sebagai tanda pada tanganmu, dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahnu dan pada pintu gerbangmu”. (Ulangan 6:6-9).
Perintah-perintah Tuhan itu sangat banyak. Penulis hanya mengutarakan beberapa saja antara lain adalah: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap kekuatanmu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, (Matius 22:37-39, Markus 12:30, Lukas 10:27).  Tentang mengasihi Tuhan, telah dituliskan di Alkitab sebagai berikut: “JIkalau kamu mengasihi aku, kamu akan menuruti segala perihal-Ku.            (Yohanes 14:15). Barang siapa memegang perihal-Ku, dan melakukannya dialah yang mengasihi Aku (Yohanes 14:21).  Mengasihi Tuhan dimulai dari orang tua, dan jika anak-anak meilhat orang tua mengasihi Tuhan dengan sendirinya, perilaku itu akan ditiru. Larry Christenson berkata demikian:
“Sebelum mendidik anak-anak, orang tua terlebih dahulu berusaha menjadi bapa dan ibu yang dapat diteladani oleh anak-anak setiap harinya. Injinkan saudara-saudara dididik oleh Kristus, kalau saudara ingin mendidik orang lain. tanpa melaksanakan perintah Kristus, tak seorang pun boleh mengharap jerih lelahnya mendatangkan hasil”.[7]
Hal yang tidak kalah pentingnya dalam mengajar anak adalah: mendisiplin atau meneror atau memukul dengan rotan, jika melakukan kesalahan atau melanggar Firman Tuhan. Amsal menulis pelajaran yang sangat menarik mengenai masalah mendidik: “Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiaannya”. Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Amsal 22:6).
Eli adalah seorang imam di Israel, kedua anaknya Hofri dan Pinehas tidak disiplin (tidak dihajar) pada saat melakukan kesalahan (dosa). Alkitab menuliskan:
“Adapun anak-anak Eli jahat sekali, mereka tidak mengindahkan Tuhan. Eli sudah sangat tua, ia terus menerus mendengar pengaduan mengenai anak-anaknya terhadap bangsa Israel, Eli juga tahu bahwa anak-anaknya itu tidur dengan wanita-wanita yang bertugas di depan pintu kemah kehadiran Tuhan, sebab itu berkatalah ia kepada anak-anaknya: aku telah menerima laporan dari seluruh umat mengenai tingkah lakumu yang jahat. Mengapa kamu lakukan itu? Jangan berbuat itu lagi anakku, sungguh jelek sekali apa yang dibicarakan umat Tuhan tentang kamu. Jika orang bersalah kepada manusia dapat membelanya, tetapi jika orang berdosa kepada Tuhan, siapakah dapat menutupnya? Tetapi mereka tidak memperdulikan nasehat Eli, ayah mereka, sebab Tuhan telah memutuskan untuk membunuh mereka”  (I Samuel 2: 12, 22-25).   
Hal tersebut di atas tentang anak-anak Eli jangan sampai terjadi kepada anak-anak Kristen. Kiranya cerita ini menjadi peringatan penting bagi para orang tua, khususnya para hamba Tuhan.  Wilson Nadeak menuliskan dalam bukunya:
“Salah satu kekayaan yang dapat saya berikan kepada anak-anak saya adalah pendidikan keluarga dalam arti yang luas agar mereka menjadi manusia yang utuh, yang dapat bergaul dengan sesama tanpa merasa rendah diri, mampu mandiri, memilki kepribadian yang matang, dengan bekal pikiran dan rohani yang baik, mengenal Tuhan dengan baik sehingga tidak akan diombang-ambingkan segala rupa godaaan dalam kehidupan ini”.[8]
D.    Menjadi Teladan (10)
Alkitab berkata: bahwa menjadi wanita yang cakap (bijak) lebih berharga dari pada permata. (Amsal 31: 10). Wanita adalah penolong yang sangat indah dan berarti bagi suami dan anak-anaknya. wanita yang bijak akan menjadi mitra pria yang sangat penting. Ukuran wanita bijak bukanlah pada bentuk rupa dan penampilan, tetapi oleh kecantikan batiniah.
Menjadi wanita teladan telah dituliskan di Alkitab, antara lain adalah:
“Demikian juga hendaknya perempuan hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah”(I Timotius 2:9-10).
Banyak wanita berusaha untuk mempercantik wajah dan tubuhnya dengan berbagai perawatan, membayar mahal membuang waktu begitu cukup banyak di salon kecantikan. Tetapi sangat sedikit wanita yang meluangkan waktu dan bayar harga untuk mempercantik batiniah di salon kecantikan sorgawi, yang telah disediakan  Allah, yaitu “kosmetik rohani” yang sangat manjur, yaitu Firman Tuhan.(Mazmur 1:1-3). Dengan merenungkan Firman Tuhan siang dan malam, maka wanita-wanita akan menjadi wanita yang bijak dan akan menjadi cantik secara batiniah yang juga mempengaruhi kecantikan secara jasmani. Karena Firman Tuhan akan mengubah kehidupannya menjadi baik dan terus merasa menjadi lebih baik. Tim Pelayanan wanita bijak mengatakan:
“Salah satu pendukung perubahan yang diperlukan agar seseorang mengalami perubahan yang permanen adalah perenungan Firman Tuhan yang Intensif (sungguh-sungguh dan terus menerus). Karena di dalam Firman Tuhan terdapat KUASA PERUBAHAN, yang sangat dasyat yang mengubah seseorang menjadi serupa dengan Kristus”.[9]
Pengenalan akan Allah melalui Firman Tuhan dan perjumpaan dengan Kristus, akan membawa setiap wanita mengetahui betapa berharganya wanita akan bangsa, akan dirinya sebagai wanita yang dibentuk Allah dengan unik dan ajaib. Perencanaan ini hendaknya di bangun setiap hari dengan sang pencipta secara baik dan benar, supaya setiap wanita dapat menghargai dirinya, dan menghargai wanita-wanita yang lain. Audrey Bowie menuliskan dalam bukunya:
“Wanita Kristen yang lahir baru mempunyai suatu kesadaran siapa dirinya di dalam Kristus Yesus. Ia memiliki indentitas baru dalam Kristus, yaitu ia adalah putri seorang Raja yaitu Tuhan atas segala tuan dan raja di atas segala raja, namanya Tuhan Yesus Kristus”.[10]
Bentuk teladan yang lain ditulis Alkitab:
“Demikian juga perempuan-perempuan yang tua hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anak, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangga, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah tidak dihujat orang”. (Titus 2:3-5).
Firman Tuhan ini menasehati wanita-wanita yang tua, supaya mendidik wanita-wanita muda untuk mengasihi suami dan anak-anak. Untuk menjadi pendidik ,berarti dididik terlebih dahulu, itu sebabnya di halaman 13 tadi sudah dikatakan para wanita sangat perlu bersungguh-sungguh dan terus menerus belajar firman Tuhan untuk mengenal Allah dengan benar sejak dini (sejak muda) dan setelah dewasa (tua) dapat mengajarkan apa yang telah dipelajari tersebut kepada generasi penerus, yaitu wanita-wanita muda. Demikian terus dari generasi ke generasi, supaya penginjilan tidak terputus sampai Tuhan Yesus datang kedua kalinya.
Keteladanan secara Jasmani juga dituliskan di dalam Alkitab, yaitu: Hendaklah wanita berdandan dengan pantas dan sopan, rambut jangan berkepang-kepang, jangan memakai perhiasan emas, mutiara, atau pakaian yang mahal-mahal. (I Timotius 2:9-10). Sangat disayangkan dibeberapa organisasi gereja para wanita beribadah dengan pakaian yang mahal-mahal, memakai perhiasan-perhiasan emas, mutiara, berlian dengan rambut yang dihias dengan warna-warni, dan sangat terlihat jelas perbedaan antara orang miskin dan orang kaya, tetapi bersyukur ada banyak juga gereja yang meneladani apa yang tertulis di kitab. I Timotius 2:9-10.  Masih berhubungan dengan keteladanan bagi wanita dan secara umum, Alkitab menuliskan:
“Jadikanlah Dirimu sendiri suatu teladan, dalam berbuat baik, hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga  lawan menjadi malu karena tidak ada hal-hal yang buruk yang tepat mereka sebarkan tentang kita”. (I Titus 2 : 7-8).
Teladan seperti apakah yang Tuhan inginkan dari wanita (Isteri)?. Tentu teladan yang baik dan membuat nama Tuhan dimuliakan. Pilihan ada disetiap tangan wanita, apakah dalam hidup sehari-hari menunjukan teladan yang baik atau teladan yang buruk.  Tim Pelayanan Wanita Bijak mengatakan:
“Wanita yang melakukan fungsinya dengan benar, akan membawa pengaruh yang besar bagi orang lain, orang-orang disekitarnya akan meniru dan mengikuti cara-cara hidupnya dan menjadi teladan yang baik dalam keluarga dalam gereja dan dalam lingkungan pekerjaan/usaha”.[11]
Menjadi wanita yang cakap dan bijak, adalah hidup yang menjadi inspirasi (ilham) bagi orang lain yaitu cara hidup yang memberi teladan bagi orang-orang disekitarnya, seperti tertulis di Alkitab Amsal 31:10-31. Jakob Nahuway menuliskan dalam bukunya sebagai berikut:
“Pujian bagi seorang wanita: terletak pada penampilannya, yaitu: bisa merawat dengan baik dengan tujuan memuliakan Tuhan, kemudian terletak pada karakternya, yaitu: ia seorang yang rajin, menghargai waktu, dapat dipercaya, setia kepada suaminya, pandai mengatur rumah tangganya, selanjutnya terletak pada kehidupan imannya, yaitu: wanita yang beriman, tidak mudah putus asa, takut akan Tuhan, hormat kepada suami, murah hati dan senang beribadah”.[12]
Menjadi Wanita adalah kehormatan, ada kemuliaan yang dipercayakan lewat hidupmu, yaitu menjadi teladan: ini bukan pilihan, bukan pula undangan, namun perintah Allah. Jadikanlah dirimu sebagai teladan dimana pun engkau berada dalam seluruh keberadaanmu”.[13]
E.     Memiliki Kasih (10-31)
Segala yang dilakukan oleh seorang istri dalam ayat 10-31 di dasarkan pada prinsip bahwa ia mengasihi TUHAN, dirinya, suami dan anak-anaknya. Kasih memegang peranan yang begitu penting bagi orang Kristen, baik secara umum maupun secara khusus (hubungan suami-isteri). Dari seluruh hukum yang ditulis di Alkitab, ada satu hukum yang terutama dan ada hukum yang kedua. Demikian bunyinya:
“Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah:    Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah             tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”.   (Matius 22:36-40; Markus 12:30-31; Lukas 10:27).
Yonathan A. Trisna menuliskan dalam bukunya, bahwa dalam bahasa Yunani ada beberapa kata yang diterjemahkan sebagai kasih atau cinta, yaitu:“Agape, Filia, dan Eros. Agape ialah kasih Ilahi, Filia ialah kasih persaudaraan        dan Eros adalah kasih khusus untuk sepasang manusia antara laki-laki dan perempuan.”[14] Kasih Ilahi (agape) begitu penting, sehingga tanpa agape semua perbuatan manusia kosong, dan tidak bernilai di hadapan Allah. Kasih Ilahi membuat manusia sanggup mengasihi musuh. (Matius 5:44).  Dalam kehidupan orang Kristen, kata kasih sangat sering didengar dan diperdengarkan. Karena pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib adalah bukti dari kasih Allah kepada umat manusia. Alkitab menuliskan: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”.
Kasih Ilahi (agape) adalah pengorbanan, manusia yang memiliki kasih, adalah manusia yang siap berkorban karena terjadi penyaliban kedagingan. Sangat tidak mudah melaksanakan kasih agape, hanya dengan pertolongan Roh Kudus orang Kristen sanggup melaksanakan agape kepada Allah, Agape kepada sesama, dan agape kepada musuh. Isteri yang ditulis di Kitab Amsal 31:10-31, adalah isteri yang memiliki kasih terhadap Allah, kasih kepada suami, anak-anak, dan kepada orang lain yaitu orang miskin dan orang yang tertindas.
Dalam kehidupan Kekristenan, ketiga macam kasih ini patut dimiliki oleh setiap orang. Yaitu kasih Ilahi yang mengasihi Allah, dan sesama manusia   (termasuk musuh), kemudian kasih filia yang mengasihi saudara                                (kasih persaudaraan) dan kasih eros yang mencintai pasangan yaitu kasih antara suami dan isteri, atau cinta antara laki-laki dan perempuan. Karena pengertian tentang kasih sangat luas dan dalam dan manusia hampir-hampir tidak sanggup melakukannya, kalau bukan karena pertolongan Roh Kudus, Alkitab menuliskan sebagai berikut:
“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna”. (I Korintus 13:1-2).
Begitu dalam dan dahsyatnya arti kasih itu, sehingga manusia sehebat, sepintar, sekaya apapun tidak berarti apa-apa jika tidak memiliki kasih. Selanjutnya firman Tuhan berkata: “Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku”. (I Korintus 13:3).  Mengapa kasih itu begitu penting dan begitu dalam artinya, sampai Firman Tuhan berkata demikian? Apakah yang dimaksud dengan kasih dan bisakah manusia melakukan tuntutan kasih itu?  Surat Rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus, menjelaskan tentang kasih sebagai berikut :
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”. (I Korintus 13:4-7).
Pengertian sabar, sangat luas diantaranya adalah: sabar terhadap ketidakadilan, sabar terhadap perlawanan, sabar terhadap kesesakan, sabar menghadapi yang belum bertobat, sabar menghadapi anak-anak, tidak mudah marah, tidak gampang putus asa, ada penguasaan diri, dan sabar menunggu kedatangan Tuhan Yesus untuk yang kedua kalinya dan masih banyak hal-hal yang menyangkut kebenaran lainnya. Murah hati, berbicara tentang memberi, tidak kikir, punya hati yang penuh belas kasihan, ringan tangan, rela berkorban baik tenaga, pikiran, waktu, bahkan materi, baik kepada orang yang dikenal, maupun orang yang tidak dikenal. Perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati ditulis di Kitab Lukas 20:25-37, adalah salah satu contoh yang indah tentang mengasihi sesama. Tidak cemburu, pengertiannya banyak, diantaranya adalah: tidak cemburu atas keberhasilan orang lain, tidak cemburu buta kepada suami, tidak cemburu atas kecantikan orang lain, dan lain sebagainya. Tidak memegahkan diri dan tidak sombong, artinya sekalipun hidupnya berhasil, pangkat tinggi, harta banyak, tetapi tidak bermegah akan diri sendiri, tetapi bermegah karena Tuhan bahwa semua yang dicapainya hendaknya sadar, itu datangnya daripada Tuhan, hendaknya rendah hati, tetapi tidak rendah diri. Tidak melakukan yang tidak sopan, diantaranya adalah: khusus wanita, pakaianny sopan, dandanannya wajar, tidak merokok, tidak berjudi, tidak suka berkelahi, dan lain sebagainya. Tidak mencari keuntungan diri sendiri, pengertiannya antara lain: hendaknya perduli dengan orang lain, hendaknya mau berbagi dengan orang lain, termasuk tentang keselamatan, hendaknya tidak mau selamat sendiri, tetapi mau rela berkorban demi keselamatan orang lain, melaksanakan Amanat Agung. Tidak pemarah artinya sabar, ada penguasaan diri, tidak emosional, tidak suka mengamuk. Tidak menyimpan kesalahan orang lain artinya hendaknya mudah mengampuni, tidak mau dendam, tidak sakit hati, dan mau berdoa bagi orang yang menyakitinya, mau mengasihi musuh. (Matius 5:44). Tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, hendaknya tidak senang dengan kejahatan tetapi senang karena hal-hal yang baik. Hendaknya kasih menutupi segala sesuatu, dapat diartikan tidak menceritakan keadaan orang lain, tidak menjelek-jelekkan orang, tidak suka gosip, tidak mempermalukan suami atau isteri di depan orang, dan lain sebagainya.
Akhirnya uraian kasih yang terakhir yang ditulis di Kitab I Korintus 13:4-7 adalah mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung kepada sesuatu, dapat berarti mengharapkan segala kebaikan-kebaikan, pengharapan hanya di dalam Tuhan Yesus, dan mengharapkan keberhasilan dalam segala sesuatu dan sabar dalam penderitaan, oleh karena kebenaran, sabar dalam kesesakan, sabar dalam segala hal.  Menuliskan dan mengucapkan kasih dan uraiannya, sangatlah mudah, namun dalam pelaksanaan, tanpa perjuangan, tanpa rela berkorban dengan menyalibkan daging, tanpa berusaha menjadi pelaku Firman, dan tanpa pertolongan Roh Kudus, setiap manusia tidak sanggup menjadi pelaksana/pelaku kasih. Firman Tuhan menulis: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”. (Yohanes 15:5).








[1] Siaran Televisi Metro TV Maret 2008
[2] H.L Senduk, Theologia Sistematika, (Jakarta: Yayasan Bethel t.t), hal. 109
[3] H.L. Senduk, Theologia Sistematika, (Jakarta: Yayasan Bethel t.t), hal. 120
[4] Renungan Harian Manna Sorgawi (Jakarta: Y.P.I. Kawang Kecil, 2 Maret 2008).
                [5] Henry Ramaya, Hai Putri-Putri Sara Bangkitlah, (Jakarta: Yayasan Playanan Tuaian Indonesia, 1996), hal.71.
[6] Henry Ramaya, Hai Putri-Putri Sara Bangkitlah (Jakarta: Yayasan Pelayan Tuhan Indonesia, 1996) hal 71.
[7]Larry Chirstenson, Keluarga Kristen, (Semarang: Yayasan Persekutuan Betania, 1994),     hal. 104.

[8] Wilson Nadeak, Mengatasi Masalah Keluarga, (Bandung: Yayasan Baptis Indonesia, 1999) hal. 133.
[9] Tim Pelayanan Wanita Bijak, Mutiara Kehidupan Wanita, (Jakarta: Yayasan Media Buana Indonesia, 2008), hal. Vii.

[10] Audrey Bowie, Menjadi Wanita Allah, (Jakarta: Haggai Institut Indonesia, 2005), hal. 28.
[11] Tim Pelayanan Wanita Bijak, Mutiara Kehidupan Wanita, (Jakarta: Yayasan Media Buana Indonesia, 2008), hal. 97.

[12] Jacob Nahuwai, Bahan Untuk Meningkatkan Mutu Khotbah, (Jakarta: G.B.I. Mawar Saron, 1991), hal. 237-238.
[13] Tim Pelayanan Wanita Bijak, Mutiara Kehidupan Wanita, (Jakarta: Yayasan Media Buana Indonesia, 2008), hal. 97.

[14]  Yonathan A.Trisna, Pernikahan Kristen, (Bandung: Kalam Hidup Pusat, 1986), hal. 8.

1 komentar: